Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Mengenal Sejarah Akulturasi Kuliner Indonesia-India

Handy NursatyoHandy Nursatyo
Mengenal Sejarah Akulturasi Kuliner Indonesia-India1
Cita Rasa Indonesia
Melihat makanan bersantan atau rasa jinten yang kuat mungkin bisa dijadikan sebuah hipotesis bahwa panganan tersebut merupakan bentuk akulturasi kuliner antara Indonesia dengan India. Seperti yang dilansir oleh kompas.com, bukti tertulis menunjukkan bahwa pengaruh India masuk ke Nusantara pada abad keempat. Namun, jauh sebelum itu kemungkinan orang India dan kebudayaannya sudah masuk ke Nusantara.
Lantas, apa saja yang menjadi ciri karakter panganan yang memang merupakan hasil akulturasi kedua budaya tersebut. Sebelum memasuki penjelasan lebih detil mengenai sejarah akulturasi kuliner ini, bagi kamu yang belum memiliki Qraved App, segera download aplikasinya untuk mendapatkan informasi menarik seputar dunia kuliner lainnya.

Two Wave Influence

2
Photo Source:  www.goodfoodchannel.org
Faktanya, agak sukar untuk melihat pengaruh kuliner India di dalam makanan Nusantara karena pengaruh kebudayaan India masuk setidaknya dalam dua gelombang yang setiap gelombang kemungkinan memiliki perbedaan.
Gelombang pertama masuk ketika bangsa India memperkenalkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat Nusantara dan melesap ke dalam bahasa Jawa Kuna.
Dalam kamus Sanskerta dapat ditemukan sejumlah kata kuliner, seperti gula, adang (salah cara memasak makanan), caru (sesajian yang direbus dengan susu dan mentega), kundi (mangkuk), dan beberapa kosakata lainnya yang masih dikenal di Nusantara.
3
Photo Source:  www.dawn.com
Gelombang kedua dimasuki oleh Kesultanan Mughal yang datang ke Nusantara pada abad ke-15. Kesultanan Mughal di India memengaruhi kuliner Nusantara melalui Aceh sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Pada masa itu antara Mughal dan Aceh memang ada komunikasi. Utusan Aceh pernah mengunjungi Mughal.
Beberapa makanan yang bisa diduga terkait pengaruh Mughal itu antara lain makanan yang bersantan dan pedas. Soal pedas itu, ada yang menyebutkan kalau sumber pedas itu adalah cabai yang dibawa oleh orang Portugis dan diperkenalkan ke Mughal hingga kemudian ke Nusantara.
Pengaruh Mughal ini sangat mungkin juga terbawa ke sejumlah Kesultanan Melayu dan juga Minangkabau. Rasa makanan yang berempah kemungkinan berasal dari Mughal. Pengaruh ini terbawa ketika Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda yang melebarkan wilayahnya ke berbagai tempat, seperti di Tanah Melayu untuk mendapatkan pasokan beras dan juga berdagang dengan Minangkabau.
Sementara itu, panganan yang diduga mendapat pengaruh India terdapat di beberapa tempat. Seperti megana yang merupakan cacahan sayur atau nangka yang ditemukan di Pekalongan, Wonosobo, dan Temanggung. Ketiga daerah tersebut ternyata berada dalam wilayah kerajaan Hindu awal yaitu Kerajaan Kalingga di abad ke 6.

Mix and Match Result

4
Photo Source:  resephariini.com
Saat ini, dengan mudahnya kamu menemukan sajian gulai (bersantan), panganan berempah dan memiliki rasa yang sedikit pedas, dan cacahan sayur nangka. Panganan tersebut terbukti jelas bahwa pengaruh kuliner India sangatlah besar kepada sajian-sajian khas Indonesia.
Salah satu contoh yang jelas lainnya akan keberadaan akulturasi tersebut adalah Nasi Kebuli. Sajian khas Betawi tersebut merupakan hasil campuran dari bumbu masakan India yang disematkan pada nasi. Hal tersebut karena para ulama yang datang ke Nusantara berkeinginan untuk menyesuaikan panganan khas mereka dengan apa yang biasa dimakan oleh masyarakat.