Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Kisah Menarik di Balik Uniknya Nasi Tumpeng

Happy FerdianHappy Ferdian
Di hampir setiap perayaan yang bersifat sosial, masyarakat Indonesia kerap menghadirkan nasi tumpeng sebagai sajian yang melambangkan puji syukur. Begitu uniknya peran sajian besar ini, membuatnya menjadi ciri khas kuliner tradisional yang paling dikenal di seantero negeri.
Bahkan, karena begitu identiknya dengan perayaan masyarakat lokal, nasi tumpeng dinobatkan sebagai salah satu dari ikon kuliner Indonesia oleh Kementerian Pariwisata RI sejak 2013.
Jika ditilik dari sejarahnya, sebagaimana dikutip dari IDN Times, nasi tumpeng merupakan makanan yang berasal dari dapur Jawa, di mana penyajiannya melambangkan berbagai makna yang bersimpul pada prinsip persatuan dan kesatuan.
Biasanya, nasi tumpeng disajikan di atas nampan bulat berukuran besar yang terbuat dari anyaman bambu. Setelah itu, nasi kuning dibentuk mengerucut layaknya gunung, dengan disertai oleh aneka lauk pauk di sekelilingnya.
Menariknya, penamaan tumpeng ternyata memiliki makna tersendiri, di mana merupakan akronim dari kalimat bahasa Jawa "yen metu kudu mempeng", yang bila diterjahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti "ketika keluar harus dengan semangat sungguh-sungguh".
Inilah yang kemudian menjadikan nasi tumpeng selalu dijadikan sebagai hidangan spesial dalam ucapan syukur atau perayaan bahagia lainnya. Sebab, makna tumpeng sendiri adalah baik, yakni ketika terlahir manusia harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, dan tidak mudah putus asa.
2
Photo Source: Temukonco
Selain itu, proses pemotongan tumpeng juga bukan sembarang dilakukan, karena harus diawali oleh uraian tentang hal-hal yang disyukuri atau dirayakan, lalu diikuti doa, dan baru setelahnya dipotong di bagian ujung kerucut. Selanjutnya, potongan tersebut diserahkan ke orang yang paling dihormati.
Setelahnya, seluruh hadirin pun bisa menyantap nasi tumpeng secara bersama-sama dalam suasana komunal yang bahagia.
Terlepas dari itu semua, ternyata setiap penyajian nasi tumpeng selalu menyertakan tujuh jenis menu, yang dalam bahasa Jawa, angak tersebut disebut "pitu", di mana juga mereferensikan kata "pitulungan", atau ajaran hidup tentang kebersamaan dan kerukunan.
Tujuh macam menu khas nasi tumpeng tersebut adalah:

1. Nasi kuning berbentuk kerucut

3
Photo Source: Baltyra.com
Bentuk kerucut dimaksudkan sebagai harapan untuk selalu diberikan hidup yang sejahtera. Selain itu juga merepresentasikan doa kepada Tuhan, untuk selalu memberikan ridha kepada umat-Nya. Adapun pemilihan nasi kuning adalah preferensi, karena diyakini bahwa semakin berwarna menu yang ditampilkan, maka akan semakin cerah pula harapan untuk masa depan.

2. Ayam ingkung

4
Photo Source: Tribun News
Ini merupakan sajian daging ayam utuh khas Jawa, yang menggunakan teknik masak marinasi sebelum kemudian dipanggang dengan cara diasap dan disiram legitnya kuah areh, sehingga menghasilkan perpaduan cita rasa gurih rempah dan aroma smoky yang nikmat. Biasanya, ayam yang digunakan adalah ayam kampung jenis pejantan, sebagai perlambang tunduknya hawa nafsu terhadap doa kebajikan.

3. Ikan teri

5
Photo Source: Resep Masakan
Sifat hidupnya yang bergerombol melambangkan kerukunan, dan karakter harganya yang murah meriah merupakan simbol kesederhanaan. Biasanya teri diolah dengan cara digoreng dalam baluran tepung, atau bisa juga dibuat sambal teri dengan kacang tanah.

4. Orek tempe

6
Photo Source: We-emief
Tempe menjadi simbol makanan rakyat yang sederhana, namun kaya akan gizi. Hal ini diharapkan mampu menjadi pengingat agar manusia terhindari dari sikap congkak. Selain itu, cita rasa manis pada orek tempe juga menyiratkan doa bahwa hidup sehderhana pasti membawa berkah yang manis.

5. Telur rebus

7
Photo Source: Sindo News
Sumber kebajikan hidup masyarakat Jawa mengajarkan konsep "tata, titi, titis, dan tatas", yang secara umum bermakna sebagai etos kerja yang terstruktur, tepat guna, dan bertaggung jawab. Untuk itu, telur rebus selalu disajikan dalam bentuk utuh, sehingga ada usaha untuk mengupas kulitnya terlebih dahulu sebelum disantap.

6. Kerupuk udang

8
Photo Source: Tribun News
Satu hal menarik dari kehadiran kerupuk udang adalah pemaknaannya, yakni sebagai pengingat bahwa masyarakat Jawa hidup serasi dalam lingkungan darat dan pesisir. Cita rasa udang menggambarkan tentang kekayaan laut, dan kerupuk merupakan lambang kreatifitas manusia di darat untuk mengolah hasil laut. Bunyi kriuk kerupuk juga konon disebut sebagai pertanda keceriaan.

7. Sayur urap

9
Photo Source: Vemale
Ini merupakan sajian serupa salad yang berisikan sayuran rebus yang dibalur oleh parutan kelapa berbumbu. Komposisi urap tidak sembarangan dipilih, karena masing-masing merefleksikan makna mendalam, seperti:
- Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung,
- Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,
- Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
- Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan,
- Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.