Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Kenikmatan dalam Kematian: Dua Bilah Mata Pisau Ikan Fugu

Handy NursatyoHandy Nursatyo
Kenikmatan dalam Kematian: Dua Belah Mata Pisau Ikan Fugu1
straitstimes
Berbicara mengenai Jepang, tentu tidak akan lepas dari dunia kulinernya. Salah satu sajian yang sangat menarik untuk diperbincangakan adalah ikan Fugu. Ikan yang mengandalkan penggembungan tubuhnya guna bertahan diri dari hal yang berbahaya tersebut kerap dikonsumsi oleh warga Jepang. Pasalnya, bila terjadi kesalahan dalam proses memasak ikan yang biasa ditemukan di perairan Jepang ini akan dengan mudahnya merenggut nyawa penikmatnya karena zat beracun yang ada di dalam tubuh si ikan Fugu. Sebuah dilema ketika ingin menikmati ikan yang sangat ikonik ini, seperti dua belah mata pisau antara kenikmatan dan kematian.
Sebelum memasuki penjelasan lebih lanjut, bagi kamu yang belum memiliki Qraved App segera download aplikasinya untuk mendapatkan informasi menarik seputar dunia kuliner.

Story Behind The "Deadly" Fish

2
Photo Source:  www.thepoortraveler.net
Tak disangka, ikan beracun ini telah dikonsumsi oleh masyarakat Jepang selama ribuan tahun. Hal tersebut terbukti karena temuan tumpukan tulang ikan Fugu yang disebut dengan Kaizuka, dan tumpukan tersebut berasal dari periode Jōmon. Periode tersebut merupakan zaman pra-sejarah Jepang, di mana masyarakatnya melakukan perburuan hewan liar dan bahkan hewan tidak dikenal untuk bertahan hidup (hunter-gatherer). Masyarakat Jepang yang hidup pada masa Jōmon tersebut telah mengonsumsi ikan Fugu sejak 2500 tahun yang lalu.
Keberadaan ikan Fugu sempat menjadi perbincangan hangat hingga akhirnya terjadi pelarangan pengonsumsian pada masa Imperium Tokugawa di awal abad ke-17. Di masa tersebut (Edo) ikan Fugu tidak lagi dikonsumsi karena kebijakan kerajaan yang amat ketat. Namun, kebijakan tersebut akhirnya meluntur seiring melemahnya pengaruh kekaisaran, sehingga masyarakat Jepang dapat mengonsumsi kembali jenis ikan tersebut.
3
Photo Source:  www.quora.com
Setelah melemahnya kekaisaran Tokugawa, masyarakat Jepang yang berada di bagian barat giat untuk berburu ikan Fugu. Sejak periode tersebut, lahir beberapa teknik memasak ikan Fugu agar dapat dikonsumsi oleh banyak orang dan tetap aman saat mengonsumsi ikan tersebut.
Bertahan lama dalam kondisi tersebut, kisah ikan Fugu terhenti kembali selama Era Meiji di akhir abad ke-19. Seluruh wilayah Jepang dilarang untuk mengonsumsi ikan beracun tersebut karena dinilai membahayakan kesehatan bahkan keselamatan jiwa.

Millenial Fugu

4
Photo Source:  www.thepoortraveler.net
Sejak tahun 1958, koki Fugu harus mendapatkan lisensi untuk mempersiapkan dan menjual Fugu untuk umum dan diperlukan pelatihan selama 2-3 tahun. Proses ujian lisensi terdiri dari uji tertulis, uji identifikasi ikan dan uji praktik; mempersiapkan dan memakan ikan. Hanya 35 % pelamar yang lulus. Kesalahan kecil menyebabkan kegagalan atau, jarang, kematian.
Mulai tahun 2012, restoran di Jepang dapat menjual Fugu dalam bungkusan yang telah diolah oleh pelaksana yang telah berlisensi.
Saat ini, Fugu dapat dikonsumsi oleh umum dengan berbagai varian penyajian. Bahkan ikan yang berawal dari pelarangan tersebut memiliki harga yang sangat tinggi, yakni mencapai ¥5,000 atau sekitar Rp 550.000 sepiringnya. Namun dilema akan terus ada, kenikmatan dalam kematian terus membayangi pikiran pecinta ikan beracun nan lezat ini.