Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

+6221 292 23070+62822 613 00800
Download The App

Arabika Jawa: Sejarah Panjang Kopi Tanah Priangan

Handy NursatyoHandy Nursatyo
"Coffee is a language in itself." — Jackie Chan
Berbicara mengenai biji kopi mengindikasikan bahwa kesiapan kamu untuk menyelam lebih dalam mengenai budaya. Karena dengan kisah biji kopi, kamu telah menyentuh peradaban sebuah wilayah lewat aroma di setiap biji kopinya.
Kalimat yang dicetuskan oleh aktor laga asal Hong Kong tersebut memiliki arti bahwa kopi memiliki bahasa tersendiri. Bahasa tersebut hanya bisa menjadi dialog antara kopi dan seruput penikmatnya, serupa dengan bahasa sandi yang sarat akan informasi dan hanya dapat dinikmati oleh dua pihak.
Mengenai kopi, sudah pasti tidak lepas dari perbincangan soal kopi Nusantara, dan salah satunya adalah Arabika Jawa. Kopi yang ditaman di daerah Prianger ini memiliki sejuta kisah mengenai dirinya dan masyarakat. Sebelum membahas lebih jauh, bagi kamu yang belum memiliki Qraved App segeralah download untuk mendapatkan informasi menarik lainnya seputar dunia kuliner.

The Story Behind Javanese Arabica from Preanger

Coffee 101: Jejak Langkah si Arabika Jawa - Kebun Kopi Jawa
Photo Source: Kebun Kopi Jawa
Bangsa Indonesia mengenal biji kopi karena sebuah paket benih kopi Arabika dari Malabar India di tanah Priangan. Jika benih itu tak cocok di tanah ini, maka Indonesia tidak akan pernah menjadi pesohor di dunia per-kopi-an. Bangsa Barat selalu mengelu-elukan bangsa Indonesia karena kita memiliki Kopi Jawa yang ditanam di Preanger.
Menurut lansiran sejarahmakanan.com, Preanger merupakan pelafalan orang Belanda terhadap kata Priangan yang merujuk pada wilayah dataran tinggi di timur Batavia di awal abad ke-17. Priangan saat itu memiliki tanah subur dan dihuni oleh sedikit penduduk asli yang disebut orang Sunda. Istilah kopi Preanger merujuk pada biji kopi yang dihasilkan dari tanah Priangan yang memiliki ketinggian yang tepat untuk menghasilkan kopi terbaik.
Karena lokasi geografisnya berupa pegunungan yang sangat cocok untuk budidaya kopi ini, kontribusi wilayah Priangan dalam ekspor kopi ke Eropa sangat signifikan. Dari buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 karya Nina Lubis, kehidupan perekonomian di Priangan pada abad ke-17 ini tidak bisa dilepaskan dari perkebunan kopi.
Heren XVII pada tahun 1706 mendorong VOC untuk mengatur penanaman kopi di Jawa. Para kepala pribumi diperintahkan untuk menanam kopi di daerah masing-masing. Masyarakat Jawa Barat pada masa kolonial diharuskan menanam kopi. Mulanya kopi ditanam di atas tanah-tanah liar dengan menggunakan jasa buruh untuk merawat.

Java Coffee Sail to the West

Coffee 101: Jejak Langkah si Arabika Jawa - motivasinews.com
Photo Source: motivasinews.com
Dari hasil penanaman kopi itu bisa membuat Belanda mengirimkan sampel kopi Jawa ke Amsterdam Botanical Garden untuk pertama kalinya pada tahun 1706. Benih-benih ini kemudian disebarkan ke beberapa botanical garden terbaik di Eropa saat itu.
Namun, budidaya kopi di Eropa selalu gagal karena iklim dan letak geografisnya tidak cocok. Oleh karena itu, Kekaisaran Perancis saat itu juga berpikir untuk membudidayakannya di negeri-negeri jajahannya di Afrika dan Amerika Selatan.
Setelah pengiriman sampel benih kopi ke Amsterdam, pada 1711 Kopi Jawa untuk pertama kalinya diperdagangkan di pasar internasional di Amsterdam sebanyak 894 pon. Dalam lelang publik pertama, Kopi Jawa dijual seharga 47 sen per pon. Karena hasil yang penjualan yang menggiurkan dan kopi tengah naik daun di Eropa, selanjutnya VOC Belanda memaksa rakyat Jawa terutama di Priangan untuk menanam kopi melalui tanam paksa.
Coffee 101: Jejak Langkah si Arabika Jawa - Cultuurstelsel
Photo Source: Cultuurstelsel
Sistem tanam paksa di Jawa Barat saat itu dikenal dengan sebutan Preanger Stelsel. Preanger Stelsel tak lain merupakan cikal bakal lahirnya Cultuurstelsel (sistem tanam paksa) karena kopi saat itu menjadi komoditas yang paling dicari di pasar dunia.

The Young Java Coffee

Coffee 101: Jejak Langkah si Arabika Jawa - coffeetalk.id
Photo Source: coffeetalk.id
Melewati perjalanan kolonial yang sangat panjang, biji kopi yang sudah terlihat tua masih menyimpan banyak kisah pahit penanaman paksa hingga indahnya cerita tentang bangsa Indonesia yang akhirnya dapat menikmati kopi yang lahir dari tanah bangsanya sendiri, tanpa pengaruh kolonialisme.
Koneksi daring dan segelas Kopi Jawa kini telah menjadi tren di kalangan anak muda untuk kongkow bersama kolega dan teman. Menikmati segelas kopi racikan yang lahir dari tanah pribumi merupakan sebuah kado terbaik yang pernah diberikan selepas masa penjajahan. Saat ini Kopi Jawa pun dijual bebas di pasaran dalam kemasan ciamik, bahkan kopi tersebut masih terus dicari di Tanah Barat.
Menyeruput Kopi Jawa dengan cangkir kecil, berdialog untuk menggali sejarah dan peradaban bangsa ini.