Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

+6221 292 23070+62822 613 00800
Download The App

5 Makanan Tradisional yang Identik dengan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Happy FerdianHappy Ferdian
Sebentar lagi negara kita tercinta, Republik Indonesia, akan memasuki usia kemerdekaan ke-73 tahun. Tentunya akan banyak sekali perayaan menarik untuk menyambutnya, mulai dari upacara bendera hingga lomba 17-an yang semarak. Berhubung sudah masuk suasana HUT RI yang patriotik, tidak ada salahnya sedikit menilik sejarah tentang perjuangan bangsa ini di era penjajahan, termasuk soal kulinernya. Siapa sangka jika leluhur kita dulu pandai mengakali keterbatasan pangan dengan berkreasi di dapur, menciptakan deretan makanan sederhana namun lezat yang terus bertahan hingga saat ini, seperti di antaranya lima contoh berikut.
Download aplikasi Qraved untuk temukan beragam informasi kuliner menarik lainnya.

1. Nasi Goreng Tiwul - Kediri

Ketika masa peralihan kekuasaan Hindia Belanda dari tangan kolonial Belanda ke pasukan imperialis Jepang, mendadak membuat masyarakat di Pulau Jawa mengalami kesulitan dalam mengakses pangan. Harga-harga mendadak naik dan rakyat juga dipaksa menyerahkan hasil komoditi tani berharga, seperti padi dan sayur mayur ke penjajah. Namun, ada satu bahan pangan yang tidak disukai Jepang, namun melimpah ruah, yakni singkong, di mana kemudian diolah sedemikian rupa menjadi tiwul yang murah dan mengenyangkan. Oleh masyarakat di kawasan Kediri dan sekitarnya, tiwul dipadukan dengan sisa nasi, digoreng dengan minyak dan bumbu seadanya, tetapi secara mengejutkan mampu menciptakan rasa yang digemari khalayak luas, bahkan hingga saat ini.

2. Soto Tangkar - Betawi

Ketika sapi mulai diternakan secara luas di pulau Jawa sejak pertengahan Abad ke-19, komunitas masyarakat kolonial Belanda bersuka cita menyambut kembali budaya makan protein daging seperti di Eropa. Dalam setiap satu ekor sapi, mereka biasanya hanya menyantap bagian daging, dan menyerahkan sisa-sisa yang tidak dimakan, seperti kepala, jeroan, dan kulit kepada penduduk lokal, termasuk di Batavia dan sekitarnya. Oleh orang Betawi, bagian sisa dari sapi tersebut diolah menggunakan beraneka ragam bumbu, sehingga menciptakan cita rasa lezat, yang konon mampu membuat meneer dan sinyao Belanda terpukau, dan tidak lagi menganggapnya sebagai makanan kelas bawah.

3. Nasi Padang - Minangkabau

 - Flickr
Photo Source: Flickr
Ada satu kisah turun temurun yang berkembang di masyarakat Minangkabau, entah benar atau tidak, yakni tentang mengapa Nasi Padang --utamanya yang dibungkus-- adalah simbol perjuangan masyarakat lokal. Perhatikanlah mengapa setiap sepiring Nasi Padang selalu disertai dengan beragam kuah. Konon hal ini berawal dari kondisi masa lalu, di mana kuah-kuah tersebut adalah satu-satunya menu mengenyangkan yang bisa dipiih oleh mayoritas penduduk lokal. Ada pula alasan mengapa kecenderungan Nasi Padang yang dibungkus selalu berjumlah lebih banyak dibandingkan yang dimakan di tempat. Lagi-lagi tentang inferioritas masyarakat kecil kala itu, yang dilihat secara simpatik oleh para pedagang nasi. Mereka menyebutnya sebagai toleransi ampera, atau amanat perjuangan rakyat, sehingga sesama saudara berhak mencicipi kelezatan makanan yang kerap disantap oleh para pembesar.

4. Perkedel Jagung

 - Qraved
Photo Source: Qraved
Lagi-lagi soal keterbatasan yang memicu kreasi lezat. Di Sulawesi Utara, pada era menjelang Perang Dunia II, situasinya tidak seburuk di Jawa, namun tetap saja harga-harga kebutuhan sehari-hari meningkat tajam, sehingga menuntut penduduk lokal putar otak untuk tetap mengisi perut dengan biaya irit. Kebetulan, produksi jagung melimpah ruah dan harganya cenderung murah, sehingga sempat menjadi komoditi pangan utama di sana. Mereka kemudian menciptakan Perkedel Jagung, yang disarikan dari nama ferikadel, atau adonan kentang dan daging. Makanan ini punya beberapa keunggulan, seperti murah, mudah dan cepat dibuat, tahan lama, serta tentu saja mengenyangkan.

5. Nasi Jagung - Madura

 - Hanamira Kitchen
Photo Source: Hanamira Kitchen
Kurang lebih awal mula kisahnya serupa dengan Nasi Tiwul, namun bedanya tidak menggunakan singkong, melainkan jagung. Ya, persediaan beras yang terbatas berbanding terbalik dengan komoditi jagung di Pulau Madura yang melimpah ruah. Untuk bertahan hidup di tengah kesulitan yang mendera, penduduk setempat pun memadukan beras dan pipilan jagung kering, menjadi sajian yang kini dikenal sebagai Nasi Jagung. Nasi memberikan efek kenyang, dan jagung berperang sebagai protein sekaligus sumber energi nabati, sehingga masyarakat pun bisa tetap kuat meski makan tanpa lauk sama sekali.