Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Ketika Vegetarian Adalah Jalan, Pun Begitu dengan Tak Memilih Jalan Itu

Sigit PrasetyoSigit Prasetyo
Ketika Vegetarian Adalah Jalan, Pun Begitu dengan Tak Memilih Jalan Itu1
Vegan Outreach
Negeri ini memang sedang gagap dalam mengejawantahkan keberagaman. Sedang krisis toleransi juga. Dan bilamana nilai PPKn, atau PMP, atau apalah namanya itu, bisa ditangguhkan, bisa jadi ada banyak anak bagsa ini yang akan mengambil remidi. Menyoal degradasi toleransi, sebenarnya tak hanya terjadi di tataran kehidupan beragama saja. Tapi lebih dalam daripada itu semua: sudah merasuk pada kehidupan sehari-hari. Yang kemudian jadi masalah adalah, sebenarnya perilaku intoleran itu, sampai batas tertentu, lahir hanya karena adanya perdebatan-perdebatan sepele. Oke lah, kita coba kesampingkan dengan kejadian-kejadian intoleran agama. Namun, kenyataanya, ketika kita mengesampingkan persoalan agama, justru kasus-kasus intoleran di negeri ini semakin jelas terbaca.  Dalam kasus perdebatan antara yang memilih jalan vegetarian dengan mereka yang tidak, misalnya. Hal yang semacam ini juga dimulai dari perdebatan-perdebatan. Satu pihak menganggap dirinya benar dan kemudian arogan.
Ketika Vegetarian Adalah Jalan, Pun Begitu dengan Tak Memilih Jalan Itu2
Photo Source:  LearnEnglish Teens
Memang, apa yang dilakukan vegetarian adalah salah satu hal yang paling mulia di dunia ini. Mereka mencoba untuk tidak menggunakan produk-produk yang terbuat dari bagian tubuh seekor hewan. Motifnya jelas, mereka tak rela ketika hewan juga harus mati untuk memenuhi kebutuhan manusia. Lagipula, masih menurut para vegetarian, daging juga kurang bagus untuk tubuh manusia. Tentu alasan-alasan tersebut cukup rasional, dan cukup sentimentil, memang. Terlebih lagi, mereka yang telah memilih jalan menjadi seorang vegetarian, mereka juga terlihat segar. Jarang terkena flu ataupun penyakit-penyakit yang berkaitan dengan ketahanan tubuh.
Ketika Vegetarian Adalah Jalan, Pun Begitu dengan Tak Memilih Jalan Itu3
Photo Source: 
Yang kemudian jadi masalah adalah ketika, mereka yang vegetarian kemudian menghardik mereka yang masih saja mengkonsumsi daging. Alasannya? Tentu saja, faktor-faktor yang bertolak belakang dengan alasan mereka yang memilih untuk menjadi vegetarian. Ya, kejam-lah, karena tega membunuh binatang demi memenuhi kebutuhan manusia. Ya, karena, daging punya kandungan kolesterol yang tinggi-lah. Dan lain sebagainya. Dan runyamnya lagi, mereka yang tidak (ya, atau boleh dikatakan belum) memilih jalan menjadi vegetarian juga merasa bahwa dirinya benar. Mengagungkan rantai makanan, bahwasanya binatang sah-sah saja untuk dimakana, karena memang begitulah yang termatub di dalam rantai makanan. Toh, sayur itu pahit dan juga, meski tak pernah makan sayur mereka masih sehat-sehat saja. Kalau sudah begini sulit juga. Entah mana yang benar. Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah menjadi atau tidak menjadi vegetarian merupakan suatu pilihan, yang besar kemungkinan telah melewati proses refleksi yang tak sebentar.  Tak ada yang perlu diperdebatkan. Mereka, yang vegetarian, juga tetap bisa makan enak. Pun begitu juga untuk para pecinta daging, mereka juga bisa makan daging dengan puas tanpa menghardik pihak lainnya. Karena kalau vegetarian merupakan suatu jalan, maka, tidak menjadi vegetarian juga merupakan jalan. Searah. Tak berseberangan.