Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

+6221 292 23070+62822 613 00800
Download The App

Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan

Indah MulyaniIndah Mulyani
Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Main Photo
Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan
Deretan tenda kaki lima berhasil mencuri perhatian di antara kerlip lampu kota, deretan toko, hotel-hotel, tempat hiburan, sampai tempat pijat dan spa di bilangan Pecenongan. Bisa dibilang, kawasan ini adalah "one stop relaxation spot". Yang doyan makan sekaligus yang mau senang-senang pasti bisa sama-sama terpuaskan. 
Keberadaan kawasan Pecinan yang terkenal dengan kuliner malamnya ini bisa diibaratkan seperti sebuah kisah. Bukan sebatas sebutan, apalagi sekadar untuk mengidentikkan nama jalan. Kisah panjang yang menjelma menjadi sebuah legenda cita rasa ini dimulai sejak tahun 70-an. Banyak perubahan itu pasti. Ada beberapa kedai yang tereliminasi, muncul pemain baru, dan ada juga yang sanggup bertahan selama puluhan tahun. 
Bicara rasa, konsistensi kelezatan yang ditawarkan deretan kaki lima Pecenongan memang tidak pernah berubah. Barangkali itu yang jadi magnet tersendiri dan membuat banyak pencinta kuliner selalu balik lagi. Dan itu juga yang menggiring Qraved untuk kembali berpetualang rasa di tempat ini. 

Martabak Legendaris

Martabak Pecenongan 65A Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Martabak Pecenongan 65A Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Tidak sampai lima menit menyusuri Jalan Pecenongan, tepatnya beberapa langkah dari restoran Bubur Kwang Tung perhatian kami langsung tertuju pada antrean pembeli dan driver ojek online yang mengerubuti kedai Martabak 65 A Pecenongan. Semerbak aroma mentega dan telur langsung menyeruak dan seketika membuat perut yang belum terisi dari siang makin terasa keroncongan.
Martabak Pecenongan 65A Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Martabak Pecenongan 65A Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Di depan kedai, tepatnya di bahu jalan, sekitar lima orang juru masak martabak berseragam merah kuning tampak sibuk membuat pesanan martabak dan itu jadi tontonan unik tersendiri baik bagi pembeli atau orang yang kebetulan melintasi jalan. Mulai dari mengaduk adonan, menaburkan parutan keju, daging cincang, menambahkan topping meses, juga kacang.
Sambil menunggu pesanan martabak selesai, Heri, salah satu anak dari pemilik gerai martabak ini menceritakan kalau usaha ini berangkat dari gerobak sederhana di tahun 1970-an. Baru di tahun 1990-an gerai martabak ini menempati kios di Jalan Pecenongan 65A. Gerai martabak yang jadi salah satu pionir lahirnya martabak kekinian bertopping Nutella, Toblerone, dan Ovamaltine ini juga menyediakan Martabak Durian, Tipis Kering, juga martabak dengan lelehan keju mozarella dan mie Samyang. Soal harga, martabak di sini ditawarkan mulai dari Rp 50 ribuan (setengah porsi) sampai Rp 260 ribuan. 
Tidak berapa lama, Martabak Samyang diantarkan ke meja kami. Olahan martabak telur yang dicampur dengan mie Samyang dan di atasnya dioles dengan bumbu saus pedasnya langsung rasanya memang juara. Tapi buat kamu yang memang benar-benar penggila pedas, sensasi pedasnya masih terbilang agak standar. 

Nasi Uduk Lauk Komplet

Nasi Uduk Sri Rostika Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Nasi Uduk Sri Rostika Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Nasi Uduk Sri Rostika Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Nggak mau berhenti di satu tempat, petualangan rasa kami pun berlanjut  ke tenda Nasi Uduk Sri Rostika. Menurut Pak Iwan-salah satu putra pemilik- gerai nasi uduk ini sudah buka sejak tahun 1978, lewat tangan dingin sang ibu yang mewarisi resep turun temurun bumbu nasi uduk, sambal, dan lauk dengan rasanya khas. Kedai nasi uduk ini juga terkenal dengan lauk pelengkap yang terbilang komplet, tidak heran kalau para pelanggannya bisa lebih leluasa memilih yang mereka suka. Mulai dari yang lauk standar seperti tahu, tempe, ayam dan bebek, cumi, udang pacet, jerohan, sampai gurame. 
Dan kalau di kedai nasi Uduk pada umumnya hanya punya lauk dan lalapan, di Nasi Uduk Sri Rostika kamu bisa pesan Cah Kangkung dan Sayur Asem.  Soal harga, menu-menu di sini dibanderol dengan kisaran Rp5 ribu sampai Rp80 ribu. Buat kamu yang belum pernah mencoba Nasi Uduk Sri Rostika, kedai ini buka dari jam 6 sore sampai jam setengah 1 malam.

Juaranya Sate Babi

Sate Babi Bakut Krekot Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Sate Babi Bakut Krekot Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Kenyang saja nggak cukup untuk menghentikan petualangan kami. Dan kami yakin itu juga bakal kamu rasakan saat pelesir kuliner ke sini. Pemberhentian selanjutnya jatuh pada Sate Babi Krekot yang buka mulai jam setengah enam sore sampan jam 12 malam. Sebagian orang mungkin agak bingung, kok namanya pakai “Krekot”, yang justru merupakan nama kawasan lain. Rasa penasaran kami pun terjawab karena menurut salah satu pelayannya, sang pemilik kedai yang buka sejak 1968 ini dulunya tinggalnya di Krekot, di sekitar Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Sebagai salah satu tempat makan yang legendaris, nggak heran kalau kalau tempat ini selalu ramai diserbu penikmat kuliner , terutama yang bisa menyantap menu non halal, seperti sate babi dan Bakut Sayur Asin. Saat salah satu dari kami mencobanya, nggak terbantahkan kalau tekstur daging sate terasa begitu lembut, menyatu sempurna dengan kecap manis yang beraroma khas, parutan lengkuas, dan perasan jeruk limau. Pilihan satenya pun beragam, mulai dari daging, jerohan, juga kulit. Harganya pun cukup terjangkau, hanya Rp 4 ribu per tusuk dan Bakut Sayur Asin-nya Rp 60 ribu per porsi.

Tak Kalah Menggiurkan

Nasi Goreng Ikan Asin "Alila" Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. QravedView All Photos
Photo Source: Dok. Qraved
Putu Medan Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. Qraved
Photo Source: Dok. Qraved
Chinese food Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. Qraved
Photo Source: Dok. Qraved
wedang ronde Geliat Malam Jajanan Pinggir Jalan di Pecenongan  - Dok. Qraved
Photo Source: Dok. Qraved
Gerobak sederhana yang parkir tepat di depån Hotel Alila Pecenongan pun tak luput dari radar. Antrean pembelinya yang terpaksa berdiri dan hanya sebagian yang kebagian bangku plastik, tanpa meja. Uniknya, kesederhanaan dan kondisi yang ala kadarnya itu tidak menurunkan pamor gerobak nasi goreng yang sudah beroperasi sejak 10 tahun silam. Setelah kami mencicipi untuk pertama kalinya, keheranan kami terjawab. Meski nasi gorengnya sekilas tampak pucat, tapi rasa yang ditawarkan bikin kami cukup kaget. Rasa gurih, sensasi ikan asin, juga sensasi pedasnya menyatu dengan pas. Mau lebih pedas atau tidak, tinggal bilang saja, karena bisa disesuaikan level pedasnya.  Seporsi nasi goreng ikan asin puma Rp 15 ribu. Mau menu lain, kamu juga bisa pesan nasi goreng petai, ati ampela, kwetiau.
Sekitar dua jam menjelang tengah malam, Qraved pun bersiap pulang. Nggak mau pulang dengan tangan kosong, kami pun menyempatkan beli putu bambu khas Medan yang dijual seharga Rp 3 ribu per satuannya. Dan sebagai informasi tambahan, di luar dari tenda kaki lima yang kami datangi, kamu juga bisa menemukan banyak penjual seafood, Chinese  food, juga es campur. Tidak sanggup mencoba semua kelezatan dalam semalam, masih ada waktu di malam-malam berikutnya untuk kembali datang.