Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Beberapa Kisah Pedagang Kaki Lima yang Membuat Kita Terenyuh

Chandra WijayaChandra Wijaya
Beberapa Kisah Pedagang Kaki Lima yang Membuat Kita Terenyuh1
Regional Kompas
Di saat orang-orang sedang sibuk di jalanan, coba alihkan perhatian ke para pedagang yang menjaja makanan di tepi jalan. Banyak dari mereka yang lebih ingin menyuarakan sesuatu, berkat hidup yang lebih keras. Mereka kerap hanya menjalani hidup demi tidak dikalahkan oleh nasib. Namun dengan usia yang sudah renta, fisik yang tak lagi kuat, latar belakang yang keras pula, mereka lebih memilih berjuang mendapatkan rezeki ketimbang menjadi murka di jalanan dan berteriak tanpa arah yang jelas. Hebatnya lagi, mereka lebih memilih berjualan dibanding harus mengemis. Yuk intip beberapa kisah yang sudah Qraved telusuri ini dan lebih peduli sekitar!

Kakek Penjual Tahu Usia 95 Tahun

2
Photo Source:  Regional Kompas
Tenaga yang seadanya, fisik tak lagi kuat, membuat seorang kakek yang tinggal di Desa Klanceng, Jawa Timur harus melawan kodrat seorang kakek yang seharusnya beristirahat penuh dan diam di rumah. Kesehariannya ia isi dengan kegiatan menjual tahu goreng dengan memikul dagangannya dari satu daerah ke daerah lain. Bayangkan, anak muda di Jakarta saja sudah mengeluh tak karuan saat harus jalan kaki berjarak 1 km. Sekedar informasi, kakek malang bernama Zubair ini menempuk jarak 40 kilometer untuk berkeliling setiap harinya. 
Namun ceritanya tak selesai sampai di situ, ia mendapatkan tahu jualannya bukan dari hasil olahan sendiri, melainkan milik seorang juragan yang memberi kepercayaan kepadanya. Kakek ini pun harus memberi setoran kepada juragannya sebesar Rp 800 per tahu, sedangkan yang ia jual seharga Rp 1.000. Dengan artian, yang ia dapatkan hanya Rp 200 per tahu. Yuk, jika kamu melintasi Desa Klanceng dan mendapati kakek ini sedang berusaha mati-matian menyambung hidup, tak ada salahnya jika membeli dagangannya sejenak. 

Kakek Penjual Kerupuk Tuna Netra

3
Photo Source:  Tulisan Kecil Risa
Secara kasat mata, mungkin fisiknya terlihat lengkap, tidak terlihat kekurangan sedikitpun. Tapi tahukah kamu, ternyata kakek yang sudah renta ini juga mengalami tuna netra dan terpaksa harus berjualan kerupuk demi keberlangsungan hidup. Mungkin banyak dari kamu yang kerap melihat pedagang seperti ini di jembatan penyeberangan atau jalan lain, namun di balik itu ternyata ada nilai yang harusnya bisa kita peroleh saat bertemu dengan penjual ini, yaitu kejujuran. Kenapa tidak kamu sempatkan waktu sejenak untuk menghampiri dan menyisihkan hanya sedikit uang untuk membeli dagangannya, karena di saat proses pembelian inilah kejujuranmu akan diuji.
Betapa tidak, saat kamu membayar dengan uang lebih, bagaimana bisa kakek ini mengetahui berapa jumlah uang kembalian yang akan diberikan ke kamu? Atau yang lebih sederhana, bagaimana bisa kakek ini tahu bahwa uang yang kamu beri sesuai dengan harga? Namun tak disangka, satu dari beberapa penjual lain hanya bisa berkata, "Hayo siapa yang belum bayar makanan? Nggak apa-apa deh, aku ikhlas. Semoga yang bayarnya kurang nanti murus-murus perutnya...".

Penjual Sayur Hingga Malam Hari

4
Photo Source:  merdeka.com
Di balik keriaan kota Malang yang punya sejuta hiburan, tentu banyak pula kisah pelik akan masyarakat yang tinggal di sana. Salah satunya, seorang kakek bernasib malang ini. Di umur yang sudah sangat renta, kakek ini tidak bisa menikmati hari tua seperti orang pada umumnya, ia harus mengais rezeki dengan berjualan sayur, bahkan hingga subuh kembali. Sehari-hari ia mengangkut dagangannya dengan menggunakan sepeda ontel berkeliling dari Tumpang hingga Rampal. Jarak yang begitu jauh untuk didayuh menggunakan sepeda. Foto ini pun sempat heboh dan telah tersebar oleh 15.495 netizen beberapa waktu lalu. Yuk, kita sisihkan sedikit uang untuk membeli dagangannya saat melintas.

Nenek Penjual Gudeg yang Sudah Sangat Tua di Yogyakarta

5
Photo Source:  travel.kompas.com
Yogyakarta memang identik dengan gudeg. Setelah berita kepergian Ibu Yu Djum beberapa waktu lalu, mari kita telusuri penjual gudeg di Yogyakarta. Ternyata ada seorang nenek berusia 95 tahun, atau bisa dibilang, 5 tahun lagi menjelang angka 100 tahun, berjualan gudeg dan menarik perhatian banyak masyarakat sekitar. Mbah Lindu namanya. Ia tinggal di daerah Klebengan, Sleman, bahkan katanya, ia lebih dulu berjualan gudeg dari Yu Djum dan memang cukup terkenal juga di sana. 
Namun di balik semua itu, dilihat dari foto saja sudah sangan tidak tega. Tangannya yang seakan melemah, bahkan hanya untuk memegang bungkusan gudeg, raut muka yang lelah, namun tidak pernah lelah berjualan dan meracik sajian gudeg yang nikmat. Maka itu, saat kamu berlibur di Yogyakarta, tidak ada salahnya mampir sejenak sambil isi perut, sambil bercengkrama dengan Mbah Lindu ini, mari hibur dia!

Kakek Penjual Basreng di Bekasi

6
Photo Source:  merdeka.com
Bayangkan, dengan beban dagangan yang harus ia pikul setiap hari, mengolah bakso goreng sedari matahari masih terlelap, ia sudah harus terbangun dan mengumpulkan semangat untuk mengais rezeki. Pak Ajok, seorang pedagang basreng yang biasa berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya, merasa beruntung karena dagangannya sering habis terjual. 
Namun meskipun begitu, ketika sempat ditanya media lain tentang harga yang ia banderol untuk baso gorengnya, ternyata hanya Rp 500. Saat dihitung secara keseluruhan, untung bersih yang ia dapat setiap harinya hanya berkisar Rp 20.000, iItupun harus ditabung untuk ia kirimkan ke istrinya Rp 100.000 setiap bulan. Sehingga ia harus benar-benar menekan hasil yang ia dapat. Keseharian ia hanya dapat mengisi perut dengan harga Rp 4.000 berisi telur, tempe, sayur, dan nasi. Sungguh keras kehidupan yang ia alami, namun bapak ini sangat murah senyum, bahkan dengan senyuman ikhlas.
Hidup memang keras. Di balik keluhan-keluhan yang kita rasain selama ini, masih banyak keluhan-keluhan yang harus didengar Tuhan terlebih dahulu, yaitu para pedagang bernasib malang ini. Bahkan, banyak dari mereka yang lebih memilih tak mengeluh dan tetap tersenyum lebar. Mengikuti arus, tanpa harus berkoar-koar kesetanan demi meyakini sesuatu. Hmm, manusia!