Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Tentang Potongan Terakhir pada Makanan dan 4 Alasan Sainstifiknya

Sigit PrasetyoSigit Prasetyo
Tentang Potongan Terakhir pada Makanan dan 4 Alasan Sainstifiknya - Main Photo
Qraved
Sudah menjadi jamak, bila orang menyisihkan bagian terenak dalam makan untuk dimakan terakhir. Misalnya saja, saat kamu memakan ayam goreng, kamu akan menguliti ayam tersebut, lalu menyisihkan kulitnya untuk dimakan terakhir. Semata karena bagian kulit itulah yang paling enak.

Lantas, sebenarnya, apa sebab kebiaasan yang demikian? Dan kali ini Qraved akan menjelaskan hal tersebut melalui pendekatan-pendekatan ilmiah.

1. Mekanisme Pasar

2
Photo Source:  Males Banget
Dalam studi ekonomi, kita mengenal konsep mekanisme pasar. Dimana barang produksi yang bagus akan cepat diserap oleh pasar, sehingga keberadaannya menjadi sedikit. Dalam konteks ini, barang produksi yang bagus itu adalah bagian terenak dalam sebuah makanan. Dengan demikian, orang berlomba untuk mendapatkan barang yang bagus tersebut.

Seperti yang dinyatakn dalam mekanisme pasar, ketika kita mempunya barang produksi yang bagus tersebut, kita punya kecenderungan untuk menyimpannya dan tidak mau dilepaskan. Karenanya, wajar, jika orang selalu menyimpan bagian paling enak sebuah makanan itu lalu memakannya terakhir.

2. Supply and Demand

3
Photo Source:  Tiwiedwords
Dalam hukum permintaan dan penawaran disebutkan, jika ketersedian sebuah barang banyak, maka harga barang tersebut akan menjadi murah. Dan akan mudah diserap pasar. Begitupun sebaliknya. Ketika ketersediaan barang di pasaran melimpah, maka harga akan menjadi mahal dan orang akan menjadi sedikit selektif.

Konsepsi inilah yang kemudian membuat orang menurunkan intensitas menggigit makanan, ketika makanan sudah hampir habis. Ketika makanan pertama dihidangkan, orang mempunya bite-rate yang tinggi, dan kemudian sedikit melambat ketika makanan sudah tinggal setengah. Ada tiga alasan mengenai hal ini. Pertama, orang tersebut sudah kekenyangan. Kedua, tidak rela makanannya habis. Ketiga, males ngunyah. Alasan terakhir, adalah alasan paling jarang ditemui, lantaran sepertinya tak ada orang yang males makan. Orang males kerja ada. Orang males mandi, ada. Orang males pacaran, klise (ngomong aja enggak laku apa susahnya). Orang males nguyah? Hmm... rasanya jarang.

3. Kepuasan Konsumen

4
Photo Source:  Qraved
Jika mulut diibaratkan produsen, dan perut diibaratkan sebagai konsumen, maka, memakan bagian terenak makanan pada saat-saat terakhir, bisa disebut sebagai praktik menjaga kepuasan konsumen. Dimana mulut tahu betul cara menjaga kepuasan pelanggannya ketika ketersediaan barang (dalam hal ini makanan) semakin menipis, yaitu: memberikan yang paling enak. Sehingga, konsumen tak lagi mempertanyakan soal kualitas sebagai tolok ukur kepuasaannya, akan tetapi kualitas.

Theory of Happines

5
Photo Source:  @tiymln
Dalam studi Psikologi, Khavari menyatakan bahwasanya kebahagian tak semata ketika mendapatkan apa yang diinginkan. Tetapi juga menginginkan apa yang telah didapatkan.

Pendekatan ini juga bisa digunakan untuk menelaah, mengapa banyak dari orang Indonesia acap kali memakan bagian paling enak makanan pada saat terakhir.

Kepuasan seseorang tak semata mendapatkan makanan yang diinginkan ketika lapar. Tapi mereka juga membutuhkan suatu penutup yang bisa membuncahkan hasratnya. Karena itulah, bagian yang enak selalu dimakan terakhir, agar bisa memuaskan perut.