Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Rijsttafel: Tradisi yang Membawa Nasi Naik Panggung di Eropa

Sigit PrasetyoSigit Prasetyo
Rijsttafel: Tradisi yang Membawa Nasi Naik Panggung di Eropa1
Bataviaasch Nieuwsblad Terbitan 4 Juni 1938
Sebenarnya masyarakat Eropa sudah mengenal nasi jauh sebelum Belanda melakukan pelayaran ke Timur.

Hal ini bisa kita ketahui, karena bangsa-bangsa Eropa sudah punya sebutan sendiri untuk makanan yang berasal dari tanaman padi ini.

Di Inggris, nasi disebut “rice”, di Belanda “rijst”, ataupun di Spanyol “arroz”. Namun, meski sudah punya sebutan sendiri, nasi jarang mendapat tempat di lidah bangsa Eropa. Mereka tetap menjadikan olahan gandum, seperti roti, sebagai makanan pokok. Tak heran, jika kemudian, nasi tak terlalu tenar di sana. 
2
Photo Source:  Bataviaasch Nieuwsblad Terbitan 4 Juni 1938
Naiknya pamor nasi baru terjadi setelah orang-orang Belanda mempopulerkan tradisi Rijsttafel (secara harfiah, Rijst berarti nasi dan tafel adalah meja), merupakan suatu budaya jamuan makan ala bangsawan Belanda yang menghadirkan nasi sebagai menu utama.

 Budaya jamuan makan ini mulai diperkenalkan sejak awal pendudukan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, terkhusus lagi di Jawa.
3
Photo Source:  FoodieHub
Pada masa itu, orang-orang Belanda yang ada di Indonesia tidak merasa malu untuk mengadaptasikan dengan lingkungan sekitar. Mulai dari mendengarkan gamelan, mencoba masakan, maupun mengenal keseharian orang lokal. Hal yang kemudian dapat dimahfumi, mengingat mereka jauh dari kampung halaman, dan harus bisa beradaptasi agar dapat bertahan hidup.  
4
Photo Source:  Dutchies
Cara beradaptasi orang Belanda inilah yang kemudian melahirkan Rijsttafel.

Orang Belanda cukup kesulitan untuk mencari makanan pokok mereka, seperti roti ataupun keju. Karenanya, mereka mulai membiasakan diri untuk makan makanan lokal, seperti nasi kuning, sayur lodeh, ataupun sayur asem. Lambat laun, merasakan betapa nikmatnya masakan Indonesia.

Tradisi makan menggunakan nasi ini kemudian berkembang dengan pesat. Apalagi, setelah dibukanya Terusan Suez, di mana gelombang kedatangan orang Eropa ke Hindia Belanda mejadi semakin besar. Nasi dan segala hidangannya, kemudian dijadikan menu utama dalam jamuan-jamuan makan besar bangsawan-bangsawan Belanda.

Jamuan makan yang seperti itulah yang kemudian disebut dengan Rijsttafel.

Sebuah jamuan yang diperuntukkan bagi "Penggede VOC", dengan nasi sebagai menu utama. Yang terlihat unik, dalam jamuan Rijsttafel ini, ada sejumlah jongos ( jongen = pemuda, dan Oost = Timur) yang secara berduyun-duyun ditugaskan untuk menyajikan lauk-pauk secara berkala, sesuai dengan budaya Barat. Dimulai dengan makanan pembuka, menu utama, dan kemuddian ditutup dengan dessert. Namun, tetap, meski menggunakan prosesi makan ala Barat, nasi tetaplah menu utama di atas meja.  
5
Photo Source:  arespendil.com
Lewat Rijsttafel ini juga yang membuat nasi menjadi naik kelas di Eropa sana. Karena pasca pendudukan Belanda di Indonesia, banyak bangsawan Belanda –terkhusus yang pernah dinas di Indonesia—tetap melestarikan budaya makan yang seperti ini. 

Nah, untuk kamu yang penasaran dengan tradisi Rijsttafel ini, kamu bisa datang keTugu Kunstkring Paleis. Di sana, selain hidangan ala Rijstaffel, kamu juga bisa menikmati betapa syahdunya makan makanan di era kolonial. Ah, lekker, toch?