Mengenang Bukit Duri: Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Di siang yang penat dan udara yang membosankan, kami mulai melangkahkan kaki memasuki kawasan Bukit Duri. Tak lama kemudian, seorang gadis sekira umur belasan berjalan melewati kami. Langkahnya layu. Kepalanya tertunduk. Sesekali ia tendangi kerikil yang menghalangi langkahnya. Ia seakan ingin mengerutuki sesuatu, entah apa, entah siapa. Hingga akhirnya, ada dua orang pria yang memberanikan bertanya pada gadis itu, “Hei.. mau kemana?” Kami rasa, ketiganya memang saling kenal. Mungkin (bekas) tetangganya. Atau hanya sekadar kenalan, kami juga tak tahu persisnya. Yang jelas, gadis itu tetap melenggang dan tak menghiraukan pertanyaan itu.

“Udah.. rumah lo udah ga ada,” pria itu melanjutkan seruannya.

Tapi sang gadis tetap berjalan lurus. Tak menghiraukan ataupun menoleh. Hingga sejurus kelibat anak itu hilang, berganti pemandangan hilir mudik SatPol PP yang berjaga.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Dari situ kami tahu, betapa berat beban si gadis tersebut. Ia tak lagi punya rumah! Tapi, meski begitu, ia tetap ingin melihat (bekas) rumahnya yang sudah diratakan dengan bumi akhir bulan lalu (29/9). Ah, betapa berat beban si anak itu. Rumah yang harusnya bisa dijadikan tempat terakhir untuk berlindung kala ia tak sanggup untuk menerima kejamnya realita, kini sudah tak ada lagi.

Dan kini, di hadapan gadis itu, tak ada lagi kecerian masa kecil. Tak ada lagi kesempatan berkelar di pinggir kali sambil bercerita tentang angan dan cita-cita. Berlarian keluar masuk gang sempit pun, kini tak bisa. Karena yang ada di hadapannya hanyalah dau puing: puing kenangan dan juga puing rumah orang tuanya.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Photo source: poskota

Yang Tersisa Hanya Ingatan

Dulu, pada 29 Januari 1932, pada sebuah iklan baris di surat kabar kenamaan Ibukota pada zamannya, Het Neiuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, pemerintah colonial mengumukan akan diadakan kerja bhakti untuk merapikan dan/atau menata Bukit Duri. Dalam iklan baris tersebut, pemerintah Belanda meminta para warga Bukit Duri untuk ikut serta dalam kerja bhakti yang sedianya diadakan pada pukul 7.30 agar kawasan yang ada di bantaran kali Ciliwung itu tak terkena banjir saat musim hujan datang.

Tapi itu dulu. Lantaran, kini pemerintah (yang mengaku) menguasai Bukit Duri, memilih jalan untuk meratakan kawasan tersebut dengan alat berat ketimbang meminta masyarakatnya untuk bekerja bhakti dan merapikan kawasan tersebut.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Kebijakan itulah yang kemudian membuat tak ada lagi warung nasi timbel di samping pos polisi, warung makan yang biasanya disesaki supir angkot dan para pekerja saat makan siang.  Warteg yang letaknya tak jauh dari situ pun sudah sirna, bangunanya sudah rata dengan tanah.

“Sebenarnya, warteg itu tak spesial-spesial amat. Masakannya biasa saja,” ungkap Ridho yang kami temui di sebuah warung kopi sederhana. Warung kopi yang memilih untuk tutup, meski bangunannya tak kena gusur.

 

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

“Tapi meski begitu, warteg itu sering menolong keluarga kami saat ibu tak sempat memasak di rumah.”

Benar memang kata orang. Kadang makanan enak itu adalah makanan yang biasa kita beli di dekat rumah. Tak melulu yang mahal, tak melulu yang punya tampilan wah, dan tak melulu di tempat mewah. Coba saja, kalau saja kita ditanya di manakah martabak yang enak? Pastilah jawabannya adalah martabak yang ada di dekat-dekat rumah. Jawaban seperti itu juga berlaku untuk pertanyaan: di manakah mie ayam yang enak? Ataupun di manakah nasi goreng yang enak. Dan kini, semua yang mereka anggap enak-enak itu telah hilang dari pandangan mata, dan hanya tersisa dalam ingatan.

Imaji tentang apa yang hilang dari Bukit Duri itu segera kami tinggalkan. Kami memilih untuk kembali menelusri kampong yang sudah rata dengan tanah.

Pos ronda yang ada di ujung jalan adalah tujuan kami selanjutnya. Karena, kami ingat betul,  di sanalah biasanya anak-anak kecil menghabiskan waktu bermain mereka di siang hari, sambil membeli jajanan dengan sisa uang saku sekolah mereka. Namun, siang itu pemandangan begitu lengang. Hanya ada beberapa anak yang berlarian di tengah-tengah puing dengan sekantong es teh manis di tangannya. Padahal dulu, sebelum terjadi penggusuran, ada banyak penjaja makanan di sana. Mulai agar-agar, kue cubit, cilok, sampai cakwe.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

“Sudah tak ada lagi anak-anak di sini,” ujar si penjual agar-agar. Ia juga mengaku, kalau pendapatannya sekarang turun hingga 50%, “Dulu sehari, saya bisa dapat 50 ribu, sekarang 25 ribu saja sulit.” Dari pengakuan itu kami tahu, bahwa kelengangan penjaja makanan di sini memang cukup beralasan: karena konsumen mereka sudah pergi entah kemana.

 

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Akan tetapi, dengan kesadaran penuh, si penjual agar-agar ini tetap berjualan meski ia tahu penghasilannya tak akan sama seperti sebelum penggusuran terjadi. Semata karena ia sadar mereka harus menghidupi keluarga.

Kesadaran itu pulalah yang (mungkin) membuat si tukang sayur tetap berjualan, meski ia tak tahu siapa yang hendak membeli dagangannya kini.

 

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Pun begitu dengan penjual bakso ceker yang dulunya berjualan di sebuah bangunan permanen. Ia tetap berjualan, berjaga-jaga barang kali ada orang tua yang rumahnya tak tergusur, ingin membelikan anaknya makan siang. Atau barangkali ada operator alat berat yang sedang bertugas yang lapar dan mencari makan siang. Ya, atas dasar hal-hal itulah, perempuan paruh baya itu tetap berjualan bakso ceker di bawah tenda non-permanen yang ia dirikan sendiri dan berharap tak di gusur.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Sampai di sini kita patut mengelus dada. Karena kita hanya kehilangan jajanan masa kecil, yang sampai batas tertentu, masih dengan mudah kita dapati. Sedang bagi anak-anak Bukit Duri, mereka tak hanya kehilangan jajanan masa kecil, tapi juga kehilangan rumah…

Kesumiran di Pinggir Kali

Terlalu banyak yang sumir di Bukit Duri. Batas penggusuran yang sumir, karena ada dua versi batas penggusuran. Batas legalitas hukum yang sumir. Ataupun batas perasaan –antara dendam dan keikhlasan– yang juga sumir.

Batas-batas yang sumir itulah yang kami rasakan dari air muka para penduduk Bukit Duri. Batas-batas yang bisa kami rasakan tanpa mereka berterus terang. Ibu Zahkra, misalnya.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Ibu Zahkra adalah perempuan paruh baya yang sehari-harinya berjualan nasi rames.  Dulu ia berjualan di Kampung Pulo, kampung yang sudah ia tinggali selama kurang lebih 40 tahun namun kena gusur tahun lalu. Memang, keluarga Ibu Zahkra mendapat jatah rumah susun yang diperuntukkan untuk korban penggusuran Kampung Pulo, namun ia tak sanggup untuk membayar uang sewa dan uang listriknya. Cukup mahal sewa dan listriknya, hampir 700/bulan. Begitu akunya.

Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk tinggal bersama anaknya yang tinggal di Bukit Duri. Namun, malang nian nasib ibu dengan sembilan cucu ini, karena rumah anaknya yang sebagian juga telah diratakan dengan tanah.

Begitu si ibu menceritakan kisahnya pada kami sambal membuatkan teh manis hangat.

“Kami sadar, kami salah,” ujarnya membuat pengakuan dengan dibarengi pledoi dari matanya yang berbinar. Pledoi yang bisa dengan jelas kami baca. Tapi kami bukan turis di negeri ini, kami membayar pajak sebagaimana yang telah ditetapkan pemerintah, ini tanah air kami juga. Begitu bunyi pledoi itu.

Setali tiga uang dengan penjual bakso, penjual agar-agar, ataupun penjual sayur, Ibu Zahkra tetap berjualan meski dapurnya kini sudah rata dengan tanah. Semata karena ia juga masih butuh uang untuk bertahan hidup di hari tua tanpa berpangku tangan dan meminta belas kasihan anak-anaknya.

“Dulu lumayan juga berjualan di sini, Nak. Cukup untu menyekolahkan anak, ataupun memberi uang jajan cucu-cucu,” si Ibu mencoba meceritakan masa “kejayaannya” ketika berjualan nasi rames.

Namun, kejayaan itu sama halnya dengan rumahnya: rata dengan tanah. Warung nasinya yang tak begitu besar sudah sepi pengunjung. Orang yang dulu hilir mudik, entah buruh pabrik, warga sekitar, ataupun para penumpang kereta, kini sudah tak ada lagi. Kini pembelinya sudah berganti, menjadi para pekerja dan operator alat berat yang sedang bertugas di Bukit Duri. Orang-orang yang beberapa hari lalu meratakan rumahnya dengan tanah.

Mengenang Bukit Duri:  Dianggap Duri yang Membukit Lantas Diratakan

Tentu berat menjadi Ibu Zahkra. Selain tak punya rumah lagi, ia harus membunuh perasaannya sendiri. Ia harus rela menjajakan makanannya pada orang-orang yang sudah meluluh-lantahkan rumahnya. Tapi semua itu tak jadi soal. Baginya, yang terpenting, dapurnya masih tetap mengepul dan kehidupan keluarganya tetap berlangsung.

Ah, Bukit Duri. Kampung orang-orang kecil. (Dulu) rumah-rumah berdesakan. Orang-orangnya dibikin bingung oleh surat-surat izin dan kebijakan. Dibikin tunduk mengangguk sampai bungkuk. Ah, Bukit Duri, manusia dan nestapa. Dianggap duri Ibukota yang telah membukit.

 

Let us know what you think?

  • Post Comment
    Cancel